Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts
Appreciate what do you have, especially your parents. Trust me, it's really hard to life without parents. 

Dulu pas masih ada bokap dan tinggal bareng nyokap gw juga kadang masih suka ngebantah, apalagi kalau nyokap suka nyuruh A B C D, pualiiing magerr banget. 

Tapi setelah bokap meninggal dan gw nggak tinggal bareng nyokap lagi, gw jadi nyesel sendiri. 

Gw tau kadang orang tua suka nggak sejalan sama kebaikan atau maunya anak seperti apa, tapi lu bakal paham itu semua ketika lu udah nggak bisa tinggal bareng-bareng sama mereka lagi. 

“if you love something, let it go, if it comes back, it was meant to be.” 


I used to think this saying was simply fodder for idealists.

I have a friend who used to be of paramount importance in my life sophomore year of high school. Our friendship began with casual meet at class room but we can't contact with each other. He is a kind boy. 

at that time, he was already had a girlfriend. Around the same time, though, I was beginning a burgeoning relationship. While I was beginning to get serious with my boyfriend, I didn’t notice the signs. Instead, I focused on myself. Instead, I let our friendship wane.

A few years later, we meet again on social media and I know he was ending a relationship with his girlfriend. 

I still consider he is someone important to me even though we don’t talk often or even see each other. I’m not sure what is happening in his life, but I wish I did. To this day we will exchange a few casual texts, but haven’t seen each other face to face in months. We live in the same town, yet it feels as if we are states apart.

Sometimes people fall out of our everyday lives so that they can discover who they are without you, and so you can discover who you are without them.




I hope you find a lover who is your best friend,

a lover who is kind as the wind.

I hope you find love within this lover, and

I hope that one day they find you too.



- veniavionita -
Hei you!

if you have something what you want to say to me, please contact me and tell me. 

I'll be waiting..



"semua yang tertangkap panca indera, seringkali menghalangi untuk melihat dirinya. Jangankan menjalankan perannya, tahu dirinya pun mungkin tiada."


Bring me back the time when nobody cared about aesthetics, or engagements, or however the hell we were judged on social media” 

Bagi semua yang berduka, semoga kita saling menguatkan.

Semoga kita segera pulih dan memaafkan sebanyak mungkin pihak (terutama diri kita sendiri).

“Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.”






Puisi yang di ciptakan tahun 1948 ini menginspirasi banyak orang terutama pada tahunnya saat Indonesia masih belum di akui kemerdekaannya oleh Belanda.

Sosok Chairil Anwar sendiri sangat terkenal sebagai penulis puisi, dia tak hanya pandai dalam membuat kata-katanya tapi juga pandai dalam pembawaannya.


_________________________________________________________________________________

Karawang-Bekasi


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

Saya bertemu dengannya,

beberapa saat sebelum ia benar-benar pergi.

Saat pagi hari lebih menyerupai malam hari.

Saat gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa.

Saat kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka.

Saat rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan.

Kehidupan mendadak lebih menyerupai kematian.

Seperti ada yang merenggut paksa lain menghempaskan saya ke lubang yang lebih kelam daripada kelir malam.

Dan induk dari segala sunyi menyambangi.



selepas kata, kota ini adalah kaca


adalah bahasa yang mengental di nafasnya


ketika kau binasa oleh depa


oleh jejak yang memerca 


Jogja memang surganya Nusantara,

Sunrise Plaosan yang menjadi jujugan,

Sunset Ratu Boko yang selalu mendamaikan,

sampai Malam Pagelaran Sendratari Ramayana Prambanan yang mengesankan.

Kepada Yogyakarta,

kota yang tetap Istimewa dengan muara keindahannya,

kutitipkan rinduku padamu.

Rindu yang tak biasa.

Rindu yang tak terlalu perlu jawaban.

Rindu yang tak tergesa-gesa meminta sebuah pertemuan.

Jogja tidak meninggalkan apa-apa buatku, aku yang telah meninggalkan hatiku disana.


Pada lirik-lirik yang ragu ini
  
biarkan rindu tetap melaju

menyerbu telingamu penuh seru

Pada setiap waktu yang berlalu dalam jemu

biarkan semua suara tetap merdu



-Mohammad Istiqamah Djamad-