Puisi yang di ciptakan tahun 1948 ini menginspirasi banyak orang terutama pada tahunnya saat Indonesia masih belum di akui kemerdekaannya oleh Belanda.

Sosok Chairil Anwar sendiri sangat terkenal sebagai penulis puisi, dia tak hanya pandai dalam membuat kata-katanya tapi juga pandai dalam pembawaannya.


_________________________________________________________________________________

Karawang-Bekasi


Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)




Apa yang kamu pikirkan jika melihat film dengan genre western? yang pasti terpikirkan pertama kali adalah cowboy, right? HOSTILES, film yang bertemakan cowboy dan rasisme ini menghadirkan perasaan yang berbeda bagi setiap penontonnya.






Di awali dengan adegan pembuka yang menghadirkan pembantaian sebuah keluarga yang dilakukan oleh sekelompok orang berkuda. Apa alasannya? Sementara sang ibu (Rosalie) selamat karena berhasil bersembunyi disaat anak dan suaminya terbunuh.


Di sisi lain seorang kapten bernama Joseph Blocker yang rasis diberi tugas terakhir sebelum pensiun. Tugas tersebut ialah untuk mengawal kelurga indian untuk kembali ke Montana. Betapa tidak menyenangkannya perasaan sang kapten yang harus berjalan menyusuri orang-orang yang tidak disukainya. Terlebih, ekspresi sang kapten yang penuh kebencian dan luka masa lalu semakin menambah kesan dramatis di film ini. di tengah perjalanan rombongan sang kapten bertemu dengan Rosalie yang hampir gila karena pembantaian keluarganya.






Film ini bercerita tentang luka lama dan bagaimana cara seseorang menyembuhkan luka lama tersebut. Yaitu, dengan menerima kenyataan.

Akhir cerita yang menyenangkan dan melegakan bagi setiap yang menonton film ini,
Hostiles menampilkan sinematografi yang memukau (dan mengingatkan saya dengan film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak).
  
Rating
IMDb: 7,2/10

Sutradara
Scott Cooper

Produser
Scott Cooper, Ken Kao, John Lesher

Penulis Skenario
Scott Cooper

Pengarang Cerita
Donald E. Stewart

Pemain
Christian Bale, Rosamund Pike, Wes Studi, Jesse Plemons, Adam Beach, Rory Cochrane, Ben Foster

Musik
Max Richter

Sinematografi
Masanobu Takayanagi

Penyunting
Tom Cross

Produksi
Waypoint Entertainment, Le Grisbi Productions, Bloom Media

Distributor
Entertainment Studios Motion Pictures

Durasi
133 menit

Budget
USD 39 juta

Rilis
2 September 2017 (Telluride), 22 Desember 2017 (Amerika Serikat), 1 Juni 2018 (Indonesia)

Saya bertemu dengannya,

beberapa saat sebelum ia benar-benar pergi.

Saat pagi hari lebih menyerupai malam hari.

Saat gurat senja lebih menyerupai lukisan nestapa.

Saat kelopak bunga lebih menyerupai kelopak mata luka.

Saat rintik hujan lebih menyerupai jarum kepedihan.

Kehidupan mendadak lebih menyerupai kematian.

Seperti ada yang merenggut paksa lain menghempaskan saya ke lubang yang lebih kelam daripada kelir malam.

Dan induk dari segala sunyi menyambangi.